Sunday, July 1, 2007

Sumbar Akan Patenkan Masakan "Rendang Padang"

Posted On 12:11 PM by Botuang 1 comments

Beredarnya isu negara jiran Malaysia telah mematenkan masakan khas Sumatera Barat, "Rendang Padang", tim klinik HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Dinas Perindag Sumbar terpaksa bekerja keras menyiapkan usulan pematenan termasuk pemberian nama merk masakan khas Minangkabau itu.

"Rendang Padang segera dipatenkan ke Dirjen HAKI guna memberikan perlindungan atas kekayaan intelektual milik Urang Minang itu, dan setelah selesai persiapan usulannya akan dilaporkan ke gubernur untuk seterusnya di daftarkan ke Dirjen HAKI sekaligus diberi merk," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar, Ir Bambang Susilobroto MS di Padang, Kamis.

Hal itu dikatakannya sehubungan adanya kekhawatiran tenggelamnya nama Sumbar terhadap isu bahwa Rendang Padang telah dipatenkan Malaysia sebagai Rendang Malaysia padahal Rendang Padang merupakan olahan rakyat Sumbar yang sudah membudaya sejak dulu secara turun temurun.

Bila Rendang Padang ini tidak segera dipatenkan, Sumbar dipastikan akan mengalami kerugian secara ekonomi dan bisnis sehingga hasil karya nenek moyang Urang Minang sebagai bagian dari aset tradisional Sumbar menjadi hilang.

Di hadapan peserta rapat persiapan usulan pemberian merk Rendang Padang, yang juga dihadiri pejabat antara lain Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar H Kamardi Rais P Datuak Simulie, dan Pejabat Ketua Umum KADINDA Sumbar Ir Rusmazar Ruzwar, mengatakan, persiapan itu terkait risiko setelah dipatenkan termasuk tanggungjawab Pemdaprov Sumbar.

Menurut dia, kepedulian pelaku industri makanan dan kerajinan di Sumbar untuk mendaftarkan HAKI atas apa yang mereka hasilkan baik pemberian merk, hak cipta, paten, desain kerajinan, rahasia dagang dan desain tata letak sirkuit terpadu, masih rendah.

"Ini terjadi akibat pelaku industri Sumbar belum menganggap penting HAKI didaftarkan, belum percaya diri terhadap produk yang mereka buat tetapi malah senang memakai merk atau identitas produk luar negeri," katanya.

HAKI belum banyak diminati juga terkendala akibat pada umumnya para pelaku industri makanan dan kerajinan Sumbar baru memenuhi permintaan lokal, belum memahami prosedur pengurusan HAKI secara luas, besarnya biaya dan lamanya tenggang waktu pengurusannya sehingga mereka malas mengurusnya.

Banyak produk komoditi ekspor belum dilindungi dokumen yang sah, termasuk pemerintah belum konsekuen menerapkan sanksi yang nyata terhadp pembajakan HAKI baik yang dilakukan oleh orang, badan atau negara asing yang tidak berhak.

"Kebiasaan masyarakat selama ini baru mau bereaksi dan mengusulkan HAKI-nya setelah produknya dibajak oleh orang lain," katanya.

Ketua Umum LKAAM Sumbar H Kamardi Rais P Datuak Simulie, menyarankan bahwa secara moral dan bisnis rencana pendaftaran paten Rendang Padang merupakan tanggungjawab Dinas Deperindag Sumbar.

"Orang Minang tidak tahu itu, yang jelas mereka bisa memasak rendang dengan enak, sedangkan untuk mematenkannya adalah tanggungjawab Pemprov Sumbar jangan sampai kita kecolongan oleh negara lain, yang rugi kan masyarakat Minang sendiri," katanya.

Menurut Bambang, proses meng-HAKI-kan produk makanan Sumbar yang berindikasikan geografis perlu mendapat persetujuan dari LKAAM atau pemda setempat untuk didaftarkan merknya atau patennya, termasuk usulan pemberian nama Rendang Padang, atau Rendang Minang, Rendang Payakumbuh, dan sebagainya tentu harus ada legitimasinya.

Pejabat Ketua Umum KADINDA Sumbar Ir Rusmazar Ruzwar, mengatakan, pemerintah perlu mendorong lembaga perbankan memberikan kemudahan kepada pengusaha kecil dan menengah (UKM) dalam mengakses kredit investasi guna mendukung pertumbuhan produksi mereka dalam jumlah besar agar bisa bersaing dalam pasar lokal, nasional dan internasional.

Data Dinas Perindag Sumbar menunjukkan Dinas tersebut sudah mengurus dan mendaftarkan beberapa produk UKM menjadi 13 merk, dan yang telah keluar izin merknya tercatat sebanyak 10 buah. Dalam tahun 2004 ini dinas juga akan mendaftarkan desain industri kerajinan komoditi Batik dan Tenun sebanyak 15 motif yang dibiayai Deperindag (Dirjen IDKM) Jakarta. (http://www.kompas.com)


Satu Cerita Gema Ramadhan

Posted On 11:56 AM by Botuang 0 comments

Pasar Suliki. Akhirnya kami sampai disini setelah empat jam perjalanan. Pasar yang buka sekali seminggu –tiap hari Senin- ini merupakan tempat pemasaran hasil ladang berupa gambir, kopi dan lain sebagainya. Untuk menuju tempat ini, kami harus melalui rute yang cukup menantang. Selain tanjakan yang curam, tebing-tebing yang tinggi, jalan tersebut hanya diberi aspal pada jalan yang menanjak saja, sedangkan pada daerah datar tidak. Konon, menurut Pen yang merupakan penduduk asli Jorong Botuang, jalan yang diperbaiki hanya di jalan-jalan yang rawan saja. Sedangkan di jalan yang tidak terlalu berbahaya tidak di beri kerikil. Hal ini menyebabkan jalan sangat licin ketika hujan turun karena tanah yang mengandung tanah liat.

Empat jam sebelumnya. Di kampus Universitas Negeri Padang, terik cahaya matahari yang membuat kepala terasa panas tidak membuat kami gerah tapi malah sebaliknya karena Air Conditioner (AC) bus cukup menyegarkan. Ada sekitar 49 orang mahasiswa dan satu orang pembimbing yang tergabung dalam tim Gema Ramadan (geram), telah duduk memenuhi bangku bus UNP.

Gema Ramadan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNP kali ini berlangsung selama empat hari, jumat pagi sampai minggu sore, 14-17 Oktober 2005. Bekerjasama dengan organisasi mahasiswa selingkungan UNP, dalam kegiatan itu turut serta staf ahli Pembantu Rektor (PR) III, Syamsul Bahri yang biasa disapa Buya menuju daerah tujuan di mesjid Jihad jorong Mudiak Liki, kenagarian Kurai, kecamatan Suliki kabupaten Lima Puluh Kota.

***

Selesai melaksanakan shalat Subuh berjamaah di mesjid yang berjarak sekitar 100 meter dari SD, kemudian dilanjutkan dengan kuliah tujuh menit (kultum) yang diberikan oleh Lismomon Nata, anggota BEM UNP. Ia memberikan kultum mengenai pentingnya mahasiswa untuk mengenal daerah lain, sehingga bila pergi kemanapun tidak akan canggung dalam menghadapi kondisi tiap daerah yang berbeda.

Sekitar pukul sembilan pagi kami kembali menuju mesjid untuk memberikan pelatihan. Pagi ini pelatihan diperuntukan bagi anak-anak dan remaja. Kegiatan ini di berikan oleh rekan-rekan mahasiswa yang telah dibagi dalam beberapa kelompok dan mempunyai dasar mengenai pelatihan yang akan mereka berikan. Pelatihan yang dilakukan adalah pidato, shalat berjamaah, adzan, kaligrafi, dan nyanyian nasyid.

Pada pelatihan kaligrafi yang diikuti hampir duapuluhan anak, Rino, siswa kelas enam SD di Jorong Mudiak Liki yang tinggal bersama orang tua perempuannya mengatakan “Di sekolah kami ndak mandapek an pelatihan iko do.(Di sekolah, kami Tidak mendapatakn pelatihan seperti ini).” Ujarannya ini kontan disambut gelak tawa peserta dan tim geram.

Ketua BEM UNP, Abri Maijon yang merupakan penanggung jawab Gema Ramadan turut ikut memberikan pelatihan kaligrafi. Antusiasme peserta yang membludak tampak jelas menambah semangat tim geram dalam mengajar. Tapi, terkendala juga pada anak-anak yang masih belum mengerti dan belum bisa menulis. Meskipun demikian ada beberapa anak yang patut dipuji karena mereka telah bisa dan bagus dalam menulis.
Ba’da dzuhur, digelar pelatihan untuk ibu-ibu yaitu memasak tahu skotel dan puding wortel. Mereka berbondong-bondong menuju tempat pelatihan yang dikhususkan di SD. Pelatihan ini diikuti sekitar lima belas orang ibu rumah tangga. Terpancar dari wajah mereka yang menunjukan bahwa sangat besarnya keinginan untuk mengikuti pelatihan ini. Mereka menanyakan apa saja dan segala sesuatu yang kurang mereka pahami. Suasana keakraban cepat terasa. Suasana yang kaku dan sebenarnya tidak diharapkan hadir mencair ketika canda tawa ikut serta menghiasi pelatihan. Demo ini diberikan oleh Marlina dari jurusan Kesejahteraan Keluarga FT dan dibantu oleh teman-teman perempuan yang lainnya.

Mereka juga mengikuti pelatihan menyambung tanaman yang sebenarnya diperuntukan bagi bapak-bapak dan pemuda. Namun, para pemuda dan bapak tersebut tidak bisa mengikuti karena harus bekerja di ladang. Ladang tersebut letaknya di hutan dan sangat jauh dari pemukiman.Untuk bekerja akan menghabiskan sehari penuh di ladang, sehingga tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan.

Objek yang digunakan adalah bunga bougenvill, dan disajikan oleh M. Yusuf dari jurusan Biologi, juga dibantu teman-teman anggota tim Gema Ramadan lainnya. Bougenvill tersebut dienten (disambung). Menurut Yusuf walaupun pesertanya adalah wanita semua, tapi pelatihan tidak akan sia-sia dan juga banyak bermanfaat bagi mereka untuk mengembangkan bunga-bunga yang terdapat di halaman rumah. Bunga yang telah disambung dan dapat berkembang, jika dijual maka akan menghasilkan pemasukan yang lumayan banyak.

Akhirnya hari-hari terakhir tim geram di Suliki tiba. Dalam merealisasikan Tri Dharma perguruan tinggi, kami memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai arti penting pendidikan. Kami diminta lebih lama di mesjid karena mereka ingin mengenal pendidikan serta menggali informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai pendidikan. Penduduk Jorong Botuang yang memiliki sekitar 114 kepala keluarga tampak sangat antusias dan mereka sagat mengerti akan kebutuhan dan perlunya pendidikan bagi anak-anak mereka.

Keesokan harinya, bersama masyarakat setempat, kami melaksanakan gotong royong bersama untuk membersihkan jalan, mesjid,dan musala. Beberapa warga berharap agar para mahasiswa sering mengunjungi daerah Mudiak Liki, sehingga nantinya tidak melupakan daerah ini. Sejurus kemudian, tim geram harus siap berangkat. Lima belas menit kemudian, bus yang mengangkut tim geram bertolak kembali ke kampus UNP.

(Oleh: Romi Mardela)